CHADUHA

Tulisan-tulisan Chabib Duta Hapsoro

Yang Inferior, yang Kurang Kejutan*

Theo Frids Hutabarat, How I Met Your Artworks, media campuran, dimensi bervariasi, 2012

Theo Frids Hutabarat, How I Met Your Artworks, media campuran, dimensi bervariasi, 2012

Menarik menyimak tulisan Heru Hikayat dalam harian ini minggu lalu yang berjudul Menyoal Bandung. Tulisan itu merupakan ulasan Pameran Bandung New Emergence volume 4 (BNE v.4) yang diselenggarakan pada 22 Juni-14 Juli di Selasar Sunaryo Art Space.

Di salah satu bagian, seraya mengutip pernyataan Aminudin TH Siregar (ATHS) pada sesi diskusi Pameran BNE v.4, ia meyebut bahwa tren penyebutan ‘Bandung’ sebagai judul pameran sesungguhnya menampakkan rasa inferior seni rupa Bandung terhadap seni rupa Yogyakarta. Dalam konteks ini seni rupa Bandung dan Yogyakarta memang berperan sebagai dua poros seni rupa tanah air yang nampaknya selalu ‘dikondisikan’ untuk selalu bersaing.

Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa semua pameran bersama yang diadakan oleh pelaku seni rupa Bandung baik di dalam maupun luar Bandung dengan mengenakan tajuk ‘Bandung’ menunjukkan inferioritas. Seolah pelaku seni rupa Bandung membutuhkan embel-embel Bandung agar lebih mudah dikenali. Bandung selalu tersebut untuk melulu terbedakan dengan Yogyakarta. Nama Bandung selalu dikumandangkan karena seni rupa Bandung merasa kurang dikenali dan dipahami oleh publik seni rupa tanah air meski telah memiliki sejarah seni rupa yang panjang.

Kita ingat bahwa tahun 2006 hingga 2008 marak pameran yang mengenakan embel-embel Bandung pada judul-judulnya seperti Petisi Bandung, Bandung Initiative (dalam beberapa seri pameran) dan Bandung Art Now. Jikapun ATHS menyatakan bahwa pameran ini mengidap inferioritas, hal tersebut cukup beralasan karena mungkin, pertama, pameran-pameran itu diselenggarakan di luar Bandung. Kedua, pameran-pameran tersebut dipakai sebagai ajang mempromosikan karya-karya seniman Bandung dan meluruskan asumsi-asumsi yang keliru pada seniman dan seni rupa Bandung. Contohnya, dengan mengutip pernyataan ATHS—yang uniknya bersama Heru Hikayat menjadi kurator pameran Petisi Bandung dan Bandung Art Now—dalam pengantar kuratorial Pameran Bandung Art Now (2008), “…dulu Petisi Bandung diajukan pula sebagai jawaban atas asumsi-asumsi yang beredar di medan sosial bahwa seni dan seniman Bandung tengah mengalami ‘kemunduran’ yang siknifikan baik ditilik dari gagasan estetik hingga peluang di tengah pasar.”

Oleh Heru Hikayat dan ATHS, Bandung New Emergence (BNE) dianggap mengidap inferioritas karena juga mengenakan embel-embel Bandung. Pernyataan itu seperti diperkuat oleh pernyataan Agung Hujatnikajennong sebagai penggagas BNE pada pembukaan pameran BNE v.4, pada Jumat, 22 Juni lalu. Agung menyatakan bahwa BNE diinisiasi dengan latar belakang kegelisahan potensi seni rupa Bandung yang kurang terekspos jika dibandingkan dengan Yogyakarta.

Perlu diingat bahwa BNE diadakan di Bandung dan memiliki misi yang sama sekali berbeda dari pameran yang mengenakan tajuk ‘Bandung’ yang disebut sebelumnya. BNE merupakan ajang proyeksi ke dalam dan ajang evaluasi diri atas capaian seni rupa Bandung tiap dua tahun sekali. Selain mengenalkan seniman-seniman muda, BNE sesungguhnya adalah sebuah infrastruktur yang merangkum dan memetakan seni rupa Bandung dalam kurun waktu tertentu. Maka dari itu, pernyataan bahwa BNE sebagai indikator inferioritas adalah kurang tepat.

Jika dikaitkan pada tajuk Bandung pada setiap pameran, menurut ATHS modus tersebut sudah berlangsung sejak lama bahkan sebelum tahun 2006. Tak pelak, ATHS memang seorang sejarawan seni rupa Indonesia. Menurutnya, seni rupa Bandung sejak dulu memang dikondisikan untuk menjadi inferior karena selalu dikritik. Salah satu kritik Trisno Sumardjo bahwa Bandung sebagai laboratorium Barat, bagi ATHS, justru membuat seni rupa Bandung makin dikenal secara khusus dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Kemudian lewat tanggapannya dalam diskusi ia mempertanyakan sejauh mana kurator BNE v.4 memberi perhatian pada sejarah panjang tersebut? ATHS mengkhawatirkan adanya sikap ahistoris. Jika boleh saya jabarkan, sikap ahistoris menunjukan adanya tuna acuan, yang membuat para perupa kita selalu mencari rujukan ke seni rupa Barat. Menurutnya, para pendahulu seni rupa kita dulu, telah banyak memberikan landasan penting sebagai referensi bagi kekaryaan perupa kita sekaligus bagi pembacaan karya yang biasa dilakukan oleh kritikus dan kurator.

Saya sepakat bahwa, kesadaran pada sejarah ini penting. BNE v.4 bertolak dari refleksi pada perubahan medan seni rupa Bandung yang berubah secara signifikan sejak pertengahan 2000-an. Setelah marak pameran bertajuk Bandung, oleh pasar, demand terhadap karya-karya para perupa muda meningkat dibandingkan tahun 90-an. Para seniman yang terpilih dalam seleksi BNE v.4 adalah generasi yang menyaksikan perubahan yang terjadi dalam medan seni rupa Bandung tersebut. Perubahan tersebut secara langsung maupun tidak, mempengaruhi persepsi mereka tentang kesenimanan yang kemudian berimplikasi pada modus-modus mereka untuk terus bertahan dalam medan seni rupa ini. BNE v.4 adalah upaya sederhana kami untuk memetakan perubahan tersebut.

Menghadapi perubahan itu para perupa ini menanggapinya dengan cara yang berbeda-beda. Ada seniman yang berterus-terang untuk bereksistensi di wilayah pasar, ada pula seniman yang tergerak untuk mengkritisi medan seni rupa yang kelewat didominasi pasar. Namun, satu yang pasti, para perupa ini sadar untuk terus bernegosiasi dengan pranata-pranata dalam medan seni rupa agar mereka terus bertahan termasuk bernegosiasi dengan pihak tertentu—dalam etika tertentu—pada kreasi karya seni mereka.

Dengan melakukan refleksi pada peristiwa penting di masa lalu, dapat disimpulkan bahwa BNE v.4 selain memiliki pendekatan sosiologis, adalah pameran yang memiliki pendekatan historis. Dua pendekatan ini menurut penulis relevan untuk menilai kondisi seni rupa Bandung kini. Pendekatan historis kami pakai untuk melakukan refleksi pada perubahan yang terjadi dalam medan seni rupa Bandung beberapa tahun lalu. Selanjutnya, pendekatan sosiologis kami aplikasikan untuk memetakan cara pandang perupa terhadap kesenimanan mereka terkait perubahan dalam damedan seni rupa Bandung.

BNE v.4 yang kurang kejutan

Lebih dari sekadar urusan kekaryaan, BNE adalah upaya pemetaan akan kondisi seni rupa Bandung kini. BNE v.4 hendak menguji sejauh mana relevansi kesenimanan pada karya-karya yang mereka buat dalam ruang pamer. Pernyataan seniman yang kemudian kami telaah menunjukan karakteristik khas seniman muda Bandung.

Pada bagian selanjutnya, Heru meyatakan bahwa BNE v.4 kurang mengejutkan. Hal ini menurut Heru disebabkan kurator kelewat menerima pernyataan seniman mengenai kesenimanan mereka saja. Hal ini perlu diluruskan. BNE v.4 menghadirkan dua tipe pembacaan. Pertama pembacaan karya, kedua pembacaan pernyataan kesenimanan perupa dalam kerangka sosiologis. Kendati dipresentasikan secara berdampingan dalam ruang pamer, pernyataan seniman dan karya yang ditampilkan tidak berhubungan secara langsung. Pernyataan seniman tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap karya begitu juga sebaliknya.

Dalam penyelenggaraan pameran di Indonesia, dua tipe pembacaan memang amat jarang dilakukan. Dalam BNE v.4, pendekatan ini menurut kami justru saling melengkapi. Karya-karya seni yang muncul dalam tiap pameran, mustahil dibuat melalui ruang pribadi (studio) seniman saja. Banyak faktor-faktor eksternal yang berpengaruh bagi penciptaan karya seniman. Selain itu, pertimbangan pengetahuan kesenirupaan oleh publik seni juga amat berpengaruh bagi kreasi artistik mereka. Singkatnya, segala eksplorasi artistik tiap seniman berkembang bersama pemahaman dan artikulasi mereka terhadap kesenimanan yang berubah. BNE v.4 merupakan upaya kami untuk menghadirkan simulasi mekanisme tersebut dalam ruang pamer.

Hingga tulisan ini selesai dikerjakan, sebenarnya penulis masih bingung untuk menanggapi pernyataan Heru perihal BNE v.4 yang kurang kejutan. Apakah parameter yang mendasari penilaian tersebut? Penilaian juga muncul atas dasar pembandingan. Apakah pembanding pameran BNE v.4 dengan pameran yang menurut Heru masuk dalam kriteria mengejutkan? Meskipun dibandingkan dengan BNE-BNE sebelumnya, penilaian tersebut kurang relevan karena tiap penyelenggaraannya BNE memiliki pendekatan kuratorial yang berbeda-beda.

Selain itu, pengkurasian BNE v.4 tidak menempatkan kurator untuk mengintervensi seniman pada proses penciptaan karya seni ataupun mengubah kecenderungan berkarya mereka (jika itu dipahami menjadi prasyarat menampilkan sebuah paket pameran-karya yang mengejutkan). Pendekatan pengkurasian pameran BNE v.4 adalah pembacaan karya dan praktik kekaryaan seniman secara mendalam. Menurut penulis dua pendekatan tersebut tidak layak dibandingkan karena memiliki fungsi dan kepentingan yang berbeda.

Aspek kurang kejutan juga diserukan Heru saat menyebut karya Theo Frids Hutabarat—berjudul How I Met Your Artworks—yang dianggap sebagai pengulangan. Penulis tidak akan menanggapi penilaian itu karena bersama audiens lain, Heru punya otoritas dalam mengalami, mencerap karya seni berikut menilai berdasarkan selera dan referensinya masing-masing.

Namun, Heru kurang hati-hati saat ia membandingkan karya Theo dengan Michael Binuko. Ia menyebut dibandingkan Theo, karya Binuko lebih baik karena mengangkat isu lingkungan. Karya Binuko yang mengangkat isu lingkungan lebih baik dibandingkan karya Theo dengan isu kritik pada medan seni rupa. Memeriksa pernyataan ini, pembaca akan menarik kesimpulan bahwa semua karya seni yang mengangkat isu lingkungan selalu lebih baik dibandingkan tema-tema kekaryaan yang lain.

Penulis memahami bahwa penyelenggaraan BNE yang telah sampai pada volume 4 menghadirkan ekspektasi tinggi dari publik seni rupa Bandung. Bentuk perhatian seperti kritik sesungguhnya menyiratkan BNE sebagai salah satu infrastruktur penting dalam medan seni rupa Bandung.

*Harian Pikiran Rakyat pertama kali memuat tulisan ini pada Juli 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Desember 2014 by .
%d blogger menyukai ini: