CHADUHA

Tulisan-tulisan Chabib Duta Hapsoro

Yang Picisan dan Mengolok-olok*

Saat kita melihat karya drawing Mufti Priyanka yang akrab dipanggil Amenk, maka akan terlihat komposisi sebagai berikut: teks berikut elemen tipografinya, citra tengkorak, citra lain yang mencerminkan attitude dari budaya-budaya musik (metal, punk, psikedelik dan lain-lain) dan citra nudis. Namun kita tidak akan terangsang ataupun merasakan kengerian saat melihatnya. Justru kita akan tertawa terpingkal-pingkal.

Karya-karya drawing Amenk menjadi jenaka karena menggabungkan citra-citra budaya yang bertolakbelakang. Citra-citra khas punk, metal dan psikedelik yang “adiluhung” itu ia rusak dengan citra lain sehingga maknanya menjadi picisan (kampungan).

Gejala yang muncul pada karya-karya Amenk bisa dirunut saat ia mulai berkuliah di Jurusan Seni Rupa UPI Bandung tahun 1998 yang mengantarnya berkenalan dengan almarhum Andry Mochammad. Andry Mochammad yang menjadi seniornya saat kuliah, sering memperlihatkannya pada referensi-referensi vintage macam majalah dan komik lawas.

Dari sini bisa dipahami bahwa kebudayaan anak muda saat itu yang yang mulai memiliki keberjarakan dengan apa yang bisa disebut dengan “realitas”. Hal ini juga merefleksikan adanya demokratisasi ideologi dan pengetahuan yang membuat anak-anak muda saat itu mulai memposisikan diri untuk berasyik-masyuk dengan dunia mereka sendiri. Ditambah dengan kemudahan pada akses informasi dan kecanggihan teknologi, anak-anak muda ini membentuk kutub-kutub kecil dengan beragam ketertarikan yang spesifik.

Andry Mochammad yang tergila-gila (geek) pada sesuatu yang vintage dan hal-hal yang berbau kitsch amat mempengaruhi Amenk. Juga saat mereka tergabung dalam sebuah grup band A Stone A yang terbentuk tahun 2003. Sebelum dikenal sebagai band yang mengusung musik noise seperti sekarang, A Stone A dibentuk lebih karena sebagai respon atas kebudayaan anak muda di Bandung saat itu. Muhammad Akbar, rekan Amenk di A Stone A menyatakan bahwa A Stone A menjadi semacam olok-olok pada perayaan kebebasan anak muda itu sendiri. “Jadi dulu membentuk A Stone A itu memang melihat di Bandung, Jakarta lagi ramai-ramainya band rock n roll, vintage, dan garage, terus yang gripnya gitu-gitu doang. Kami melihat, kalau musik mereka yang gitu-gitu doang ternyata bisa jadi rockstar. Okelah kita bikin band-band-an yang mengutamakan image, hanya bikin propaganda lewat isu-isu, merchandise, stiker. Padahal band-nya fiktif, musiknya tidak ada, personilnya juga dibuat-buat,” tutur Akbar. A Stone A yang beranggotakan Andry Mochammad, Amenk, Akbar dan Erwin Windu Pranata akhirnya menjadi tempat untuk mengembangkan kesadaran artistik bagi para personilnya.

Sepertinya perkara olok-olok itulah yang menular ke Amenk pada tema-tema karya drawingnya. Tema olok-olok pada karya Amenk mengacu pada budaya anak muda yang ia lihat sehari-hari yang hybrid dan kosmopolit. “Mana ada anak punk main ukulele kalau tidak di Indonesia,” kata Amenk. Kegemaran Amenk pada majalah lawas juga memberikan pengaruh besar pada karya-karyanya. Ia mengoleksi beberapa majalah lawas sepeti Detektif Romantika dan Varia. Secara khusus ia paling menyukai Detektif Romantika yang mengangkat isu-isu kriminalitas, asmara dan seks (media kuning). Secara spesifik ia mengambil serta menyalin aspek hiperbolis, vulgar dan seduktif dari gambar, pose dan teks yang ditampilkan majalah itu untuk diterapkan pada karya-karyanya. Gagasan yang melandasi karya-karyanya sering tidak terduga dan bisa muncul di mana saja. Maka dari itu media tinta cina di atas kertas HVS baik yang baru maupun bekas amat mengena untuk Amenk. Ia dapat dengan cepat merealisasikan gagasan-gagasannya tersebut.

Berikut saya lampirkan sebaris teks pada salah satu karya Amenk yang berjudul Hasrat Kebinatangan I. Melalui teks ini kita menjadi mengetahui kedekatan Amenk dengan referensi-referensi di atas. Karya ini bertitimangsa 2011.

Bayanganku selalu tertuju pada pijatan romantis Mas Toni, Tiap sentuhannya terasa gairah seks ini bergelora dengan tiba-tiba. Tiada tara. Entah sampai kapan pun aku selalu mencintaimu Mas Toni. Dia ganteng selain itu juga dia pejabat DRPD yang proyek-proyek fiktifnya selalu goal di ACC. Memang terdengar bejad ketika aku mendengarnya. Aku kaget bukan kepalang apalagi aku merupakan wanita simpanan Mas Toni Kedua karena hubungan gelap ini. Sampay-sampay aku positip hamil 1,5 bulan. Mas Toni selalu mengiming-imingi kelak bayi itu diberi nama Robertus Dodi Permana Gonzales. Akupun hanya tersenyum malu mendengar itu. Malahan ketika itu pun naluri kebinatanganku muncul ingin bercinta dengan Mas Toni sampai lecet.

Di bawah tulisan itu terdapat sebuah gambar yang menampilkan seorang laki-laki bertato yang sedang memijat pasangannya. Amenk tertarik pada tema-tema gelap. Ia selalu menghadirkan sosok-sosok berandalan, preman, kekerasan, perselingkuhan dan nudis dalam karyanya. Kejelian Amenk adalah dengan menyuguhkan tema-tema gelap tersebut dengan melebih-lebihkannya namun tidak dalam konteks menjadi makin mengerikan dan vulgar. Ia menabrakkan tema-tema itu dengan citra lain (teks maupun gambar) sehingga menjadi murahan (geuleuh).

Citra gambar dalam karya drawing Amenk tidak bisa dipisahkan dengan teks. Keduanya saling melengkapi. Dalam wacana tanda kita bisa menyebut bahwa terdapat dua tanda yang bekerja pada karya Amenk. Tanda pertama berupa tanda visual yang menyiratkan beragam makna. Kehadiran teks sebagai tanda kedua menjadi semacam penambat untuk mengikat tanda pertama pada satu makna tertentu. Selain itu. dalam karya Amenk gabungan kedua jenis tanda tersebut menuntun audiens untuk membuka imajinasi menjadi lebih luas.

Contoh lain adalah karya dengan judul “Skate Teruus Olangan”. Porsi utama karya ini adalah sesosok perempuan berwajah tengkorak dan di sampingnya terdapat seorang laki-laki yang bermain skateboard. Di bagian bawah terdapat teks yang tertulis “Aa Main Skate Terus Ikh” dalam gaya tipografi psikedelik. Pemakaian kata “Aa” yang memiliki konteks lokal membuat karya drawing ini menjadi sebuah parodi ironis.

Yang menarik adalah kesadaran Amenk dibalik pendekatannya berkaryanya. Publik terbiasa menjustifikasi bahwa konten yang bermuatan vulgar dan kekerasan dalam produk-produk budaya populer dapat berpengaruh buruk bagi penikmatnya. Namun bagi Amenk justru tidak. Ia menyadari bahwa semua itu tidak nyata. Ia malah bisa berefleksi, bahwa antara yang buruk dan baik dalam kehidupan nyata kadang dapat lebih absurd dan tidak masuk akal. Selain itu, pendekatan berkaryanya ini mampu membuat Amenk menerima keadaan sekelilingnya. “Emang udah jumpalitan gitu realitas di luar, absurd. Ini cuma representasi dari realitas saja. Saat aku lagi galau aku butuh penyadaran lain. Sederhana saja,” tutup Amenk.

*Tulisan ini pertama kali dimuat dalam katalog SLEBORZ, Pameran Tunggal Mufti “Amenk” Priyanka, Juni-Juli 2011 di Galeri Padi, Bandung.

Mufti "Amenk" Priyanka, Hasrat Kebinatangan II, tinta cina di atas kertas, 29,7 cm X 21 cm, 2011

Mufti “Amenk” Priyanka, Hasrat Kebinatangan II, tinta cina di atas kertas,
29,7 cm X 21 cm, 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Desember 2014 by .
%d blogger menyukai ini: