CHADUHA

Tulisan-tulisan Chabib Duta Hapsoro

Mochtar Apin: Sang Petualang dari Gelanggang

Apin Muda. Dokumentasi Keluarga Mochtar Apin

Apin Muda. Dokumentasi Keluarga Mochtar Apin

Di tahun 2013 lalu telah berlangsung tiga pameran yang bertajuk Archiving Apin. Pameran ini berlangsung di tiga tempat yang berbeda, dalam waktu yang berbeda dengan pendekatan yang berbeda-beda pula. Ketiga acara pameran tersebut masing-masing adalah: Archiving Apin: Works and Documents from the Mochtar Apin Collection, berlangsung di NUS Museum, Singapura (31 Agustus-29 September 2013); Archiving Apin: Arsip-arsip Perjalanan Kesenimanan Mochtar Apin, di Galeri Soemardja, ITB (18 September–4 Oktober 2013), dan Archiving Apin: Painting the Modern, Mochtar Apin 1940 – 1990, di Edwin’s Gallery, Jakarta (26 September 2013 – 27 Oktober 2013).

Tentu saja, pokok perhatian ketiga acara tersebut adalah sama: menampilkan sejumlah karya dan arsip yang berkenaan dengan perjalanan karier Mochtar Apin sebagai seniman, pendidik, pemikir yang telah berperan banyak dalam perkembangan seni rupa di tanah air.

Melengkapi keseluruhan pameran yang telah berlangsung di tahun lalu, kini telah siap terbit sebuah buku yang mengulas dan menampilkan sosok Mochtar Apin, perjalanan hidup dan kariernya. Buku ini berisi sejumlah esai yang mengulas karya-karya Mochtar Apin oleh M. Agus Burhan, Suwarno Wisetrotomo, dan Enin Supriyanto. Juga, dilengkapi dengan kisah dan kesaksian sejumlah seniman lain, rekan-rekan Mochtar Apin, hasil wawancara Asikin Hasan, serta catatan kenangan anggota keluarga Mochtar Apin.

Peluncuran buku ini akan berlangsung pada hari Jumat, 2 Mei 2014. Mendampingi acara peluncuran buku ini, SSAS juga menyelenggarakan pameran sejumlah karya-karya Mochtar Apin, dilengkapi berbagai bahan arsip dan dokumentasi merujuk pada sejumlah ulasan, uraian dan catatan yang tampil dalam buku “Paradoks Mochtar Apin” tersebut.

Pameran ini adalah presentasi sederhana yang berupaya menghadirkan bukti-bukti perjalanan panjang Mochtar Apin, dimulai dari kiprahnya bersama para seniman muda Gelanggang di awal kemerdekaan Indonesia, sampai pada berbagai penjelajahan dan petualangannya dalam mencari bentuk dan isi bagi karya-karya seni-rupanya yang beragam.

Pameran ini juga menampilkan sejumlah bahan arsip dan koleksi pribadi keluarga Mochtar Apin. Berbagai bahan berharga, penuh kenangan dan jarang dilihat oleh publik seni rupa tanah air ini dapat membawa kita pada pemahaman yang lebih intim mengenai tokoh ini: dari berbagai alat kerja yang pernah ia pakai dalam studionya, juga sejumlah benda dan perangkat yang menunjukkan minatnya yang dalam dan luas pada kesusasteraan, musik, fotografi, hingga seni-budaya tradisional Indonesia.

Selain menghadirkan Mochtar Apin sebagai sosok yang multifaset, pameran kali ini adalah sebentuk penghormatan atas karya dan sumbangannya bagi seni rupa Indonesia selama ini. Bagaimanapun, adalah penting untuk terus-menerus menghadirkan eksistensi karya dan pengalaman tokoh ini ke hadapan masyarakat karena perjalanan kesenimanan Mochtar Apin adalah juga bagian penting dari perjalanan sejarah seni rupa modern di Indonesia.

***
Pertama-tama, Mochtar Apin pantas kita sebut sebagai pelopor bagi perkembangan seni cetak grafis di Indonesia. Dalam hal ini, Mochtar Apin (1923-1994)—bersama Baharudin Marasutan (1910-1988)—bermodal karya seni cetak grafis telah ikut mengiringi kemerdekaan Indonesia dalam suatu upaya diplomasi kebudayaan yang unik. Di bulan Agustus 1946, merayakan setahun kemerdekaan Republik Indonesia, badan ‘Oeroesan Pemoeda Perhoeboengan Loear Negeri’ (salah satu bagian dalam Sekretariat Negara RI) menerbitkan 36 eksemplar album koleksi karya grafis (lineographs) hasil karya kedua seniman muda Indonesia tadi. Album tersebut disertai pengantar yang ditulis oleh St. Takdir Alisjahbana. Secara khusus tentang karya grafis itu, ia menulis:

Pahatan lino yang disajikan sekarang ini ialah satu contoh yang lain pula, betapa keras hati angkatan baru Indonesia untuk menjelmakan dirinya. Kesempatan untuk belajar menggambar dan melukis tak pernah ada, tetapi dari petunjuk yang sedikit-sedikit diperoleh dari buku dan orang asing, yang kebetulan bersua, diusahakan mencari jalan untuk menyatakan yang tak tertahan-tahan terasa dan terpikir di dalam hati.

Buku puisi Chairil Anwar Deru Tjampur Debu, bunga rampai karya sastra Gema Tanah Air (cetakan keempat: 1959) dan buku terjemahan H.C. Andersen dan Dongeng-dongengnya oleh Darmawidjaja (cetakan kedua, 1954) menandai karier Apin sebagai ilustrator pada 1940-1950an.

Buku puisi Chairil Anwar Deru Tjampur Debu, bunga rampai karya sastra Gema Tanah Air (cetakan keempat: 1959) dan buku terjemahan H.C. Andersen dan Dongeng-dongengnya oleh Darmawidjaja (cetakan kedua, 1954) menandai karier Apin sebagai ilustrator pada 1940-1950an.

Selang beberapa tahun kemudian, Mochtar Apin kembali menerbitkan semacam buku panduan seni cetak grafis dilengkapi dengan contoh karyanya, berupa buku kecil yang di halaman sampulnya tertulis: Pantjangan Pertama, Pahatan-Lino oleh Mochtar Apin. Penerbitan ini diupayakan oleh perhimpunan seniman “Gelanggang” dan penerbit “Pustaka Rakyat”. Terhadap penerbitan ini, Rivai Apin—sastrawan dan saudara kandung Mochtar Apin—segera menyiarkan ulasannya di majalah Mimbar Indonesia (17 Agustus 1948), yang berjudul: Satu Cabang Lagi Dipenuhi. Kini kita bisa menerima bahwa penerbitan Pancangan Pertama, pengantar Mochtar Apin di dalamnya mengenai sejarah dan teknik cetak grafis, serta ulasan Rivai Apin di Mimbar Indonesia adalah sejumlah penanda awal lahirnya diskursus dan praktik seni grafis di Indonesia. Seni grafis kini telah resmi jadi bagian dari perjalanan dan perkembangan seni rupa modern di Indonesia. Dan pada tahun 1963, Mochtar Apin memelopori pelaksanaan pendidikan khusus seni grafis di lingkungan Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB.

Semangat kepeloporan Mochtar Apin adalah bagian dari keluasan wawasan dan pergaulannya sejak masa belia. Ia adalah bagian dari para seniman dan intelektual Indonesia yang kini umumnya dikenal dengan sebutan “Generasi Gelanggang” atau lebih luas lagi: “Angkatan 45”. Di tahun 1946, bersama rekan-rekannya—Asrul Sani, Chairil Anwar, Henk Ngantung, Baharudin MS, M. Akbar Djuhana—Mochtar Apin ikut membentuk perhimpunan seniman Gelanggang. Inilah kelompok seniman-intelektual muda Indonesia yang menyerantakan manifesto seni-budaya Surat Kepercayaan “Gelanggang Seniman-Merdeka” Indonesia (1950).

Manifesto ini adalah bagian penting dari semangat pembaruan yang mengiringi pembentukan jatidiri bangsa Indonesia yang baru lima tahun menjalani kemerdekaannya. Manifesto itu dibuka dengan pernyataan yang lugas dan bersemangat: “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.”

Berkenaan dengan masalah “identitas ke-Indonesiaan”, Generasi Gelanggang menyatakan bahwa: “Kami tidak akan memberikan suatu kata-ikatan untuk kebudayaan Indonesia. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada me-lap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.”

Terkhusus Mochtar Apin, identitas ke-Indonesiaan sebagai seniman dipahaminya untuk berani mengikrarkan diri sebagai warga dunia yang bersatu-tujuan memperjuangkan humanisme. Pemahaman ini makin diperkuat seiring seringnya Mochtar Apin melakukan muhibah ke Eropa (Belanda, Prancis dan Jerman) serta negara-negara lain untuk kepentingan studi, seraya memperoleh pengetahuan seni rupa modern langsung dari sumbernya. Sebuah pengalaman yang jarang didapatkan seniman-seniman Indonesia lain saat itu.

Seruan bernada garda-depan dan upaya menuju “kebudayaan baru yang sehat” itu tampaknya terus menyala dalam diri Mochtar Apin, menerangi perjalanan kreatifnya sebagai perupa. Rekan-rekan dekatnya mengakui bahwa Mochtar Apin punya energi dan keberanian untuk terus berpetualang dalam perjalanan kreatifnya sebagai seniman.

Apin: Sang Petualang dari Gelanggang, Pameran Karya dan Arsip Mochtar Apin, April 2014, Selasar Sunaryo Art Space

Apin: Sang Petualang dari Gelanggang, Pameran Karya dan Arsip Mochtar Apin, April 2014, Selasar Sunaryo Art Space

Bagi yang sungguh dekat mengenalnya, maka inilah Mochtar Apin yang sesungguhnya: sosok yang tak mau terperangkap dalam kemapanan suatu pemikiran, aliran atau gaya kesenian. Watak ini terbaca oleh Sanento Yuliman—rekannya sesama pengajar di FSRD-ITB—yang dikenal sebagai penyair, penulis dan kritikus yang berwibawa di kancah seni rupa Indonesia. Saat mengulas Pameran Restropektif Mochtar Apin 1940-1988 yang berlangsung di TIM, Jakarta (April 1988), Sanento Yuliman menyimpulkan: “Di dalam memilih dan memandang masalah, cara memecahkannya, perkembangan dialektis masalah dan pemecahan, di situ barangkali Mochtar Apin. Bukan dalam pertumbuhan dan pemekaran sebuah gaya.”

Pameran kali ini berupaya menghadirkan kembali sosok pelopor, pemikir, dan petualang ini melalui karya-karyanya dari berbagai masa, dengan segala perubahan-perubahan dan pembaruan yang dicapainya selama ini. Di masa sekarang ini kita mungkin masih dapat belajar banyak dari Mochtar Apin tentang semangat pencarian dan pembaruan yang pantas dijalani oleh setiap seniman. Mochtar Apin telah melakukan dan membuktikannya, dengan caranya sendiri. Ia sungguh-sungguh menyambut seruan sahabatnya, Chairil Anwar (Kepada Kawan, 1946):


Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
Mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkam pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

•••

Bandung, April 2014
Enin Supriyanto
Chabib Duta Hapsoro

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 Desember 2014 by .
%d blogger menyukai ini: