CHADUHA

Tulisan-tulisan Chabib Duta Hapsoro

Praktik Estetika Relasional di Indonesia: Menimbang Keterlibatan dan Keberjarakan Publik

Art and Soccer for Peace1

Tisna Sanjaya, Art and Soccer for Peace (2000). Dokumentasi Rumah Seni Cemeti

Pernah terlihat bahwa seni sempat tidak memiliki keterkaitan (secara langsung) dengan kehidupan sehari-hari. Jika yang demikian terlalu ekstrim, kita bisa menyebut bahwa seni memang seharusnya otonom, ia hadir untuk menghidupi dirinya sendiri sebagai sebuah disiplin keilmuwan. Seni dicerap ‘hanya’ melalui keindahan yang hadir melalui kebagusan formal. Ia menjadi indah, mengharukan dan memberi inspirasi ketika komposisi garis, bentuk dan warna hadir dengan harmonis serta tampil dengan berjarak dan penuh aura di hadapan penonton. Setidaknya seni rupa modern bergantung pada hal tersebut dan memiliki batasan yang cukup rigid. Bagi yang tidak demikian, ia dianggap bukan seni rupa, melainkan kitsch yang tidak mewakili standar estetika seni yang murni. Dapat dinyatakan pula bahwa seni dan perubahan sosial adalah dua hal yang terpisah.

Kemudian muncul krisis pada seni rupa ini. Yang sebenarnya bermula pada kegagalan seni rupa untuk memberi kemajuan pada dirinya sendiri terkait mediumnya. Konvensi-konvensi formalis dianggap tidak mampu untuk memapankan keberadaan seni ini. Seni rupa modern dianggap menghadapi semacam krisis rasa.

Di sisi lain perubahan sosial di dunia terjadi. Dunia tidak menjadi mapan seperti sebelum-sebelumnya. Banyaknya negara-negara yang memerdekakan diri yang kemudian melahirkan ketidakpercayaan pada dominasi Barat pada konsep kebangsaan dan pengetahuan. Prinsip- prinsip estetika juga ikut terpengaruh. Negara-negara baru  yang memerdekakan diri dari bangsa Barat, selain memiliki warisan seni rupa modern saat dijajah bangsa Barat, juga turut dipengaruhi oleh warisan kesenirupaan mereka sendiri yang berasal tradisi. Situasi sosial pada saat itu juga turut mempengaruhi. Kehendak untuk menjadi merdeka menjadikan seni sebagai alat yang baik untuk menampilkan jenis estetika yang baru.

Di negara-negara baru tersebut, seni menjadi hidup karena membicarakan keseharian. Hal ini terjadi juga di Indonesia, terutama melalui prinsip-prinsip realism yang dikeluarkan S. Sudjojono. Ia bergerak dengan kesadaran bahwa realitas sosial bukan sebagai hal yang dinafikan oleh seniman terutama bagi mereka yang hidup saat Republik belum berdiri. Seniman merasa harus membicarakan kondisi kemasyarakatan. Dari situ aspek-aspek kesenimanan pun tumbuh, khususnya melalui jejak artistik dalam karyanya. Maka dari itu muncul terminologi “Jiwa Ketok”. Seni lukis (rupa) adalah cerminan jiwa pelukisnya sebagai agen sosial. Dari sini modernisme yang khas Indonesia lahir. Seni lukis modern Indonesia hadir mewakili keindahan jiwa para senimannya sebagai insan yang berjuang untuk bebas dan merdeka sebagai manusia. Ia bukan lagi menganut aspek-aspek keindahaan ala mooi indie yang alpa mewadahi aspek-aspek kemanusiaan karena hanya menampilkan keindahan pemandangan alam khas Indonesia.

Di Barat pun seni rupa modern makin memperluas lapangan diskursifnya. Kehadiran media baru seperti percetakan, video dan fotografi makin menyerukan perubahan bahwa bagaimana seni harus diproduksi dan diapresiasi. Perkembangan itu dipengaruhi juga oleh kemunculan seni konseptual yang kemudian  membuat seni menjadi immaterial karena “hanya” mengutamakan pengalaman audiensnya untuk dapat melihat, memaknai karya seni yang dilihat. Karya-karya yang menggunakan media cetak saring misalnya, hadir dan menandai keseharian yang  mulai dipengaruhi perkembangan industri media. Seni pun dapat merangkul benda-benda berkualitas kitsch dan masinal. Hal ini bisa diterima oleh keberadaan wacana medan seni rupa (art world). Medan seni rupa (art world) makin disadari, di mana pelaku dan publik seni hidup dan berbagi pengetahuan kesenirupaan yang secara institusional dapat menahbiskan suatu benda menjadi karya seni, berikut pada bagaiamana ia diapresiasi.

Seni, Pengalaman dan Keterlibatan

Sanento Yuliman dalam tulisannya yang berjudul “Perspektip Baru dalam Seni Rupa Indonesia?” (Harian Sinar Harapan 2 Agustus 1975), menyatakan bahwa, ”…para seniman dari Persagi hingga seni abstrak, betapapun anekanya corak hubungan dengan dunia sekeliling, betapapun macam-macamnya isi pengalaman yang diungkapkan, satu hal yang mereka lakukan: benda-benda, emosi, gagasan dari pengalaman konkrit itu harus mereka jelaman menjadi sebuah dunia rupa, sebuah syair rupa, di mana segala sesuatu-poci dan sapuan cat, perahu dan cat tebal yang retak atau terkelupas, torso manusia dan serat kayu―meninggalkan kebendaannya, kekonkritannya, dan menjelma ke dalam dunia imajinasi atau “irreal” atau sebutlah dengan nama lain.”

Yang perlu digarisbawahi melalui pernyataan Yuliman di atas adalah bagaimana pengalaman keseharian seniman yang konkrit akhirnya “tersaring” melalui kepekaan-kepekaan artistik tertentu milik seniman sehingga menciptakan ragam keluaran seperti lukisan, patung, grafis dan lain-lain.

Yuliman merujuk kepada karya-karya para seniman eksponen Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang memiliki cara pandang baru terkait hal ini karena menghadirkan yang kongkrit tanpa tersaring dan terkucil di dalam batasan medium seni rupa.  Yuliman menggarisbawahi sekali lagi bahwa terdapat “suatu pelibatan baru dalam hasil seni―kepada kehadiran kita yang konkret, lingkungan kita yang kongkrit, kepada kenkonkretan pengalaman.”

Mungkin kita dapat mengaitkan kepada gejala di Barat, dalam konteks karya seni yang makin melibatkan diri pada pengalaman pemirsanya. Semuanya tergarisbawahi dalam satu konteks yang sama yakni elaborasi pada bagaimana pengalaman kesenirupaan dapat dirasakan oleh audiens seni rupa melalui perubahan bentuk dan substansi karya seni. Namun, di sini masih dirasakan bahwa audiens tetap menjadi penonton yang melihat karya seni yang kemudian terinspirasi untuk mengubah kondisi kehidupan. Wujud “tak konkret” seni rupa sebelumnya hanya hadir melalui pengalaman personal sang seniman. Wujud konkret pada akhirnya membuka jalan lebih lebar seniman kepada hal-hal yang makin bersifat sosial oleh karena makin eksisnya pengalaman terjalin oleh audiensnya dalam batas yang lebih jauh.

Bagaimana dasar-dasar itu berkembang sejauh ini? Sejauh mana otoritas kesenimanan berubah dalam konsep pembentukan karya seni dan apakah hal ini dapat memangkas jarak seni rupa ke publik?

Claire Bishop dalam tulisannya yang berjudul The Social Turn: Collaboration and its Discontents (Artforum, Februari 2006) menyatakan bahwa terdapat praktik seni relasional yang menuju atau merujuk ke beberapa nama atau istilah, antara lain seni rupa keterlibatan sosial, seni rupa berbasis komunitas, seni rupa kolaboratif, seni rupa dialogis, seni rupa partisipatoris, intervensionis, seni rupa berbasis riset dan lain-lain. Praktik-praktik seni semacam ini biasanya dikerjakan bersama komunitas yang memiliki jejaring indispliner.

Selanjutnya beberapa seniman mulai menemukan bahwa aspek-aspek sosial mewadahi watak progresivitas kesenirupaan. Setelah benda-benda konkret yang yang menampakkan aspek pengalaman yang lebih riil, seniman menemukan bahwa penciptaan atau perubahan realitas sosial dapat menjadi pencapaian estetik berikutnya.  Memperkuat hal tersebut Bishop menyatakan bahwa “seni-seni jenis ini –meskipun masih dapat diperdebatkan―dapat disebut sebagai sebentuk avant garde yang kita miliki hari ini: seniman menggunakan situasi sosial untuk memproduksi proyek imaterial, anti pasar dan membaurkan batasan antara seni dan kehidupan.”

Bishop melanjutkan bahwa banyak seniman yang mulai tidak membuat batasan antara karya mereka di dalam atau di luar galeri. Bahkan, karya-karya beberapa seniman yang mapan dan sukses secara komersial seperti telah berubah ke arah kolaborasi sosial sebagai perpanjangan dari praktik seni dan konseptual mereka.

Bentuk seni ini keluar dari medium-medium seni rupa tradisional yang kita kenali: seni lukis, patung, grafis, video dan bahkan performans. Kemudian muncullah istilah estetika relasional (relational aesthetics pertama kali dikeluarkan oleh Nicholas Borriaud) yang dipakai untuk menilai secara estetik bentuk-bentuk seni yang melibatkan diri secara sosial, kolektif, kolaboratif, dialogis dengan banyak orang dan akhirnya bisa mendudukkan seni sebagai peristiwa sosial serta cenderung identik pada terjadinya pertukaran pengetahuan. Bentuk seni ini juga menggeser konsep kepengarangan (authorship) seniman. Seniman tidak lagi menjadi superior dalam penciptaan karya seni karena ia bergantung pada aktor-aktor lain. Selain itu ia juga mempertanyakan kembali konsep craftmanship kesenimanan dan mendekatkan seniman pada sebutan “organisator” ataupun “aktivis”.

Selanjutnya Bishop menyatakan keraguannya akan aspek estetik dari bentuk seni rupa ini. Kritik seni rupa menjadi salah satu disiplin yang terimbas keraguan itu. Ia menyatakan bahwa dengan bentuk keterlibatan sosial, seni rupa telah melewati sebuah tikungan sosial (social turn). Maka dari itu aspek-aspek sosial dan etika memperluas disiplin keilmuwan estetika yang menjadi tulang punggung kritik seni rupa. Setelah itu Bishop menawarkan pada bagaimana bentuk seni rupa ini dinilai. Perhatian kritik seni rupa pada akhirnya makin intensif pada bagaimana kolaborasi dilakukan. Dengan kata lain, seniman dinilai saat mereka mengimplementasikam model kolaborasi, apakah ia bersifat mutual atau eksploitatif. Segala potensi yang mengekskploitasi subyek yang mereka presentasikan akan menjadi sebuah kritik negatif bagi seniman-seniman yang menganut bentuk seni rupa ini.

Melalui bentuk seni inilah kemudian peniliaian atas keindahan estetik kemudian diregang. Keindahan bukan lagi hanya dipandang dalam kualitas formal. Konsep keindahan lebih jauh ditantang untuk dapat relevan dengan bagaimana aktivitas sosial dilakukan.

Bentuk seni ini di Indonesia ini setidaknya sudah diinisiasi oleh Moelyono dan Tisna Sanjaya pada 1990an. Moelyono, dengan tajuk “Seni Rupa Penyadaran” menginisiasi praktik kerja memberdayakan orang-orang di beberada desa di Tulungagung dengan praktik-praktik kesenirupaan. Sifat kerjanya yang partisipatoris kemudian berdampak pada kerja kolaboratif di antara mereka yang akhirnya membentuk atau menciptakan karya seni. Tisna Sanjaya pun demikian. Kendati lekat sebagai seniman grafis, Tisna yang sempat dekat dengan seni teater kerap melakukan karya-karya performans yang melibatkan banyak orang dalam kerangka partisipatoris. Proyek-proyeknya yang seperti “Art and Soccer for Peace” (2000) dan Proyek-proyek seni melalui Rumah Budaya Cigondewah menampilkan upayanya untuk bekerja dengan masyarakat. Proyek-proyek seni yang diinisiasi oleh mereka berdua pada akhirnya mengupayakan sebuah perubahan nasib bagi kaum-kaum yang tertindas dan tefragmentasi oleh instrumen kapitalis yang represif.

Peluang untuk menghadirkan seni-seni semacam ini, nampak dihidupkan kembali saat ini. Banyak seniman, kelompok dan beberapa penyelenggaraan pameran mengadopsi cara berkesenian yang demikian. Inisiasi yang mereka lakukan nampak memiliki pengaruh etis yang kuat.

Ketjibergerak

ketjibergerak, Bocah Jogja Nagih Janji (2014). Dokumentasi ketjilbergerak

Oktober 2014, kolektif ketjilbergerak menginisiasi proyek Bocah Jogja Nagih Janji (BJNJ). Proyek itu menghadirkan ratusan anak-anak dan pemuda dari beberapa kampung di kota Yogyakarta beserta anak-anak muda dari beberapa komunitas anak muda. Anak-anak muda ini dengan menggunakan pupur wajah beraneka warna mengokupasi Titik Nol Yogyakarta dengan sebuah peristiwa. Ratusan anak-anak itu tanpa segan dan takut bermain bola, lompat tali, egrang dan permainan tradisional lain di trotoar dan tengah jalan sebagai kritik atas makin terbatasnya ruang publik di Yogyakarta. Hal ini menandai karakter kolektif ini yang mengaburkan batas antara penonton dan pencipta. Dalam melakukan proyek-proyeknya ketjilbergerak selalu membagi kepengarangan dengan cara selalu bernegosiasi dengan mitra kerja mereka.

Berikutnya kita dapat menyebut proyek Made in Commons yang diinisiasi oleh Kunci Cultural Studies, Yogyakarta bersama Stedelijk Museum Bureau Amsterdam, Belanda yang melibatkan kolaborasi antar negara. Diinisiasi sejak 2013, mereka mengundang seniman atau kolektif seniman untuk mengerjakan proyek seni dengan beberapa kata kunci antara lain kolaborasi, berbagi sumber daya bersama, arsip dan kepemilikan, kepengarangan, partisipasi terbuka dan lain-lain. Proyek ini sudah berjalan dua periode, di mana keduanya memiliki benang merah yakni secara garis besar mengundang seniman untuk bekerja di tengah masyarakat dan menginiasiasi proyek bersama mereka. Sasaran mereka jelas, yakni menjadi semacam alat untuk menengahi persoalan-persoalan di tengah masyarakat dan mengangkat upaya-upaya masyarakat dalam berstrategi di hadapan himpitan kapitalisme.

Binaraga Jatiwangi

Jatiwangi Cup. Kompetisi Binaraga Antar Jebor (2015). Dokumentasi Jatiwangi Art Factory

Begitu juga dengan proyek yang dilakukan oleh Jatiwangi Art Factory (JAF), Jatiwangi, sebuah kecamatan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Berangkat dari alasan sederhana, yakni ingin mengupayakan sebuah perbaikan kondisi yang lebih baik bagi kecamatan tersebut, JAF melalui serangkaian acara-acara dengan pendekatan kesenirupaan mereka mampu menjalin komunikasi dengan cara yang baru untuk menghubungkan masyarakat di Jatiwangi. Proyek-proyek seni yang dilakukan oleh JAF biasanya berkaitan atau berangkat dari potensi wilayah Jatiwangi sebagai sentra penghasil genteng di Indonesia. Tidak hanya terlihat kompak untuk menyelenggarakan acara-acara yang diinisiasi oleh JAF, masyarakat di sana kemudian menjadi memiliki kesadaran untuk berkumpul dan berbicara bersama untuk memperbaiki nasib mereka sendiri. Mereka akhirnya mampu memiliki posisi tawar untuk berhadapan dengan institusi negara baik pemerintah kabupaten, provinsi dan negara. Dalam beberapa hal, inisiatif JAF ini juga dapat menjadi institusi pendidikan seni rupa alternatif bagi para anggotanya.

Dibandingkan inisiasi Moelyono dan Tisna pada dekade 1990an, inisiasi kolektif-kolektif pade decade 2000an terlihat lebih memiliki kecanggihan, terutama pada bagaimana praktik seni langsung dapat melibatkan diri dengan masyarakat. Namun ia masih mengandung persoalan, terutama pada bagaimana taraf pengertian orang-orang yang terlibat dalam proyek-proyek tersebut. Bentuk seni ini memang bisa melibatkan banyak orang dan tentu saja dapat menjadi instrumen sosial untuk mengubah keadaan.

Setidaknya ada dua persoalan yang dapat diajukan. Pertama, seni sebagai instrumen perubahan sosial ternyata kerap menjadi instrumen yang eksploitatif dan kembali membuat masyarakat teralienasi. Masyarakat yang terlibat akhirnya banyak dimanfaatkan untuk penciptaan seni itu sendiri. Hal ini disebabkan karena  pemahaman kesenirupaan di antara inisiator dan kolaborator masih timpang terkait persepsi mereka terhadap seni itu sendiri. Kedua, keindahan yang ditawarkan bentuk seni ini masih berada di luar kebiasaan kita dalam publik seni. Persoalan ini makin mengemuka jika bentuk seni ini dihadapkan kepada publik umum. Karena pranata untuk meningkatkan apresiasi karya seni di Indonesia masih belum berperan maksimal, publik umum melihatnya sebagai bukan sebagai karya seni. Pada akhirnya praktik keterlibatan itu masih mengandung sebuah keberjarakan.

Keberadaan pranata kritik seni sebenarnya masih dibutuhkan dalam persoalan ini. Melaluinya, pembacaan pada proyek seni ini dapat hadir secara bersifat komprehensif dan kritis sehingga meningkatkan apresiasi publik seni dan umum terkait hal tersebut. Pembacaan tersebut pada akhirnya juga akan meniadakan pertanyaan: apakah urgen untuk mengklaim praktik-praktik ini sebagai seni atau sejauh mana sebetulnya pelaku-pelaku seni tersebut mengklaimnya sebagai karya seni. Melalui pembacaan-pembacaan yang kritis pula, istilah-istilah yang teoretis yang digulirkan pewacana-pewacana seni rupa asing pada akhirnya akan makin kontekstual dengan apa yang terjadi di sini, serta tidak menjadi substansi yang asing yang membebani produksi dan diseminasi pengetahuan di dalam medan seni rupa kita.

*Tulisan ini disunting dan dimuat Majalah Sarasvati edisi September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Agustus 2016 by .
%d blogger menyukai ini: