CHADUHA

Tulisan-tulisan Chabib Duta Hapsoro

Menyela Kesementaraan-Kesementaraan Kota

Saya membayangkan sebuah percakapan antara sepasang orang tua dengan anaknya, bahwa dahulu di sebuah sudut kota A terdapat sebuah pasar tradisional. Oleh karena beberapa hal, pasar tradisional tersebut menjadi sebuah mini market sekarang. Percakapan tersebut nyaris selalu berulang pada setiap generasi, meskipun jenis bangunan yang dibicarakan berbeda-beda. Pameran Temporal sedikit banyak berkaitan dengan ilustrasi tersebut: membicarakan kesementaraan-kesementaraan dalam lingkungan perkotaan hari-hari ini.

img_9641

Yosefa Pratiwi Aulia; Please Have a Seat; gambar, performans; dimensi bervariasi; 2015

Kita makin menyadari bahwa kesementaraan adalah hal yang nyata: tidak dapat dipungkiri dan dihindari. Wajah tembok-tembok kota setiap minggu nyaris berubah dengan jenis-jenis tempelan iklan ataupun seni-seni jalanan yang berbeda-beda. Bagaimanapun sebuah monumen yang dibangun untuk mengabadikan sejarah atau ingatan tertentu, pengetahuannya tak akan pernah bisa langgeng seperti awal saat monumen itu dibangun. Kita justru melihat banyak monumen kota yang selalu dilawan aspek-aspek keabadiannya dengan dicoret-coret oleh warga yang iseng. Banyak monumen bahkan diruntuhkan oleh beberapa organisasi masyarakat karena bertentangan dengan ideologi atau kepercayaan yang mereka anut. Kita juga makin menyadari bahwa kesementaraan intensitasnya makin cepat, setidaknya selama satu dekade terakhir. Beberapa ruang kota dengan cepat berganti bentuk ataupun fungsinya.

Keberadaan internet disadari atau tidak juga menambah taraf dan jumlah kesementaraan yang kita alami sehari-hari. Ruang-ruang fisik yang masih terjangkau oleh panca indera dan ditambah dengan ruang-ruang maya dalam pikiran yang menghadirkan perubahan di setiap detiknya.

Ritme atau denyut kehidupan yang kita jalani berlangsung  lebih cepat dibandingkan dengan kehidupan manusia pada dekade-dekade sebelumnya. Dari sini kita dapat melihat perilaku seniman yang utopis karena mencoba “melawan arus perubahan”. Kita ingat sebuah karya performans Tisna Sanjaya yang mengkritik pembangunan flyover Pasupati pada 2002. Performans yang berjudul ‘Menumbuk Jengkol, Melabur Jalan’ itu menjadi “sia-sia” karena pembangunan flyover tersebut terus berlangsung dan fungsinya dapat kita nikmati sekarang ini.

Namun, praktik mengingat di sini mencirikan beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan tindakan melawan –atau setidaknya menahan–arus perubahan itu. Dapat dinyatakan bahwa praktik mengingat secara ironis adalah cara manusia untuk mengabadikan sesuatu di tengah ruang dan waktu yang terus berubah. Untuk membantu proses mengingat, cara yang dilakukan manusia pun terus berkembang, mulai dari menggambar di dalam gua, membuat prasasti di atas batu, menemukan bahasa dan menuliskannya di atas kertas hingga merekam-mengabadikan momen-momen penting dalam hidup mereka dengan foto dan video. Secara kebetulan pula perkembangan modus itu juga beriringan dengan perkembangan praktik kesenirupaan.

Mencari Jeda di antara Ruang dan Waktu

b5c9c516-4310-4a41-95b2-501232163d57

Ensembel Tikoro, Kuda Lumping Mamam Beling, performans, bunyi; dimensi bervariasi, 2015 (lokasi: Hotel Grand Panghegar, Alun-alin Bandung, Alun-alun Ujungberung)

Pameran Temporal memilih seniman yang bekerja dalam beberapa medium penciptaan. Selain itu pameran ini memilih mereka yang secara intensif mengelola dan menjelajahi isu-isu perkotaan yang banyak berhubungan dengan banyak bidang pengetahuan. Para seniman juga dipilih berdasarkan kebiasaan mereka untuk  terlibat dengan banyak orang dalam menciptakan karya seni rupa.

Pameran ini juga menantang seniman untuk dapat mengerjakan karya di beberapa titik di luar ruang pamer, ruang yang kita lihat dan hadapi sehari-hari yang penuh dengan karakter kesementaraan. Pameran ini bisa dipahami sebagai sebuah bentuk intervensi para seniman muda Bandung terpilih untuk memberikan jeda ruang dan waktu bagi kita untuk merenungi laju perubahan-perubahan di kota yang mereka tinggali.

Dengan semangat tersebut pameran ini menggarisbawahi beberapa kecenderungan:

Melalui karya-karya fotografi beberapa seniman menampilkan refleksinya atas pengalaman-pengalaman mereka mengalami kota Bandung sehari-hari. Bagaimana tata kota hadir, dicerap dan direspons oleh warga-warganya sehari-hari dihadirkan dalam narasi yang khas dalam fotografi dokumenter. Karya-karya ini mencoba mendokumentasikan apa saja yang kita lewatkan sehari-hari. Ataupun membantu membangkitkan ingatan kita atas pengalaman-pengalaman personal saat mengalami kota, yang mengkin terlupakan dalam denyut kehidupan yang cepat.

Beberapa seniman juga sudah berpengalaman melakukan intervensi di ruang publik dalam beberapa modus penciptaan. Misalnya penggunaan beberapa modus seni jalanan seperti grafiti, sticker dan wheatpaste. Terdapat beberapa karya yang menonjolkan narasi kecil dan personal sebagai sebuah cara untuk menampilkan jeda atau keberjarakan atas kehidupan sehari-hari.  Terdapat pula beberapa seniman yang melakukan intervensi atas beberapa fasilitas-fasilitas publik dan sarana transportasi umum. Dalam beberapa hal, cara-cara yang mereka lakukan masuk dalam kategori vandalisme dan bisa disebut mengganggu “ketertiban umum”. Selain menggunakan modus seni jalanan, mereka juga melakukan performans dan mendayagunakan potensi-potensi bebunyian. Karya-karya ini juga mewakili kritik-kritik seniman atas kondisi sosial yang tidak seimbang baik dalam lingkup kota ataupun negara.

Pameran ini juga menggarisbawahi kecenderungan pada bagaimana seniman bekerja dengan komunitas. Secara spesifik mereka bekerja dan berkarya dengan melibatkan orang-orang yang berjuang di tengah laju perubahan kota yang dari ke hari makin menghimpit kehidupan mereka. Karya-karya para seniman ini tidak bisa dilihat dicerap dalam standar formal kesenirupaan yang konvensional. Bentuk dan isi karya mereka mendekati sebuah entitas yang terus-menerus tumbuh berdasarkan interaksi-interaksi  yang dibangun oleh seniman dengan komunitas yang dilibatkan serta lebih jauh dengan penonton/audiens. Melalui karya-karya ini seniman ini mampu menciptakan ruang-ruang eksistensi baru komunitas-komunitas ini di tengah ruang-ruang publik kota yang makin berorientasi pada kepentingan pemodal.

Merenungi Kesementaraan

Mengalami kota sama saja merasakan sebuah entitas yang hidup. Sebuah kota hidup akibat denyut mobilitas warga-warganya. Maka dari itu pertumbuhan dan identitas sebuah kota amat ditentukan oleh perilaku warganya. Partisipasi warga kota pada akhirnya juga menentukan wajah kota mereka sendiri.

Pameran ini mencerminkan pada bagaimana warga kota mencoba berpartisipasi terhadap kelangsungan dan kehidupan kota mereka sendiri yang dalam banyak hal makin terbatas aspirasinya hari-hari ini. Pameran ini mewakili wajah kota Bandung sekarang ini dalam beberapa hal: kehidupan anak muda, kondisi lingkungan, tata letak/rancang kota, sistem transportasi dan sistem perekonomian.

Kesementaraan adalah indikasi pada bagaimana kota hidup dan bertumbuh. Menyela kesementaraan di satu sisi dapat dilihat menjadi sebuah upaya yang aneh, tidak produktif dan menghambat tumbuh-kembang kota. Namun, di sisi lain praktik-praktik artistik yang utopis khas seniman dibutuhkan agar kita dapat terus mengingat dan berefleksi di tengah laju perubahan yang makin sarat hari-hari ini, demi mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan.

*Pengantar kuratorial Pameran TEMPORAL: Pameran Seniman Muda Bandung dalam rangka Kongres Kesenian Indonesia III. Pameran berlangsung 1-14 Desember 2016 di beberapa lokasi di Kota Bandung: Gedung Gas Negara, Simpang Dago, Kampung Pulosari, Flyover Pasupati, Hotel Grand Panghegar, Alun-alun Bandung, Alun-alun Ujungberung, Pasar Cihapit dan Viaduct.

Seniman partisipan: Arman Jamparing, Arum Tresnaningtyas, Ensemble Tikoro, Etza Meisyara, Gilang Anom Manapu Manik, Ida Latifa, KULTSE, Mufti “Amenk” Priyanka, Oka Riadi, Resatio Adi Putra, Sandi Jaya Saputra, The Yellow Dino, Vincent Rumahloine, Yosefa Pratiwi Aulia, Yusuf Ismail

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Oktober 2016 by .
%d blogger menyukai ini: