CHADUHA

Tulisan-tulisan Chabib Duta Hapsoro

Cetak Saring T. Sutanto: Memasuki Dunia Antah Berantah nan Absurd *

Pameran Berselingkuh dengan Masa Lalu, Berkencan dengan Masa Depan menghadirkan sepilihan karya-karya cetak saring T. Sutanto, yang menandainya sebagai seniman grafis. Cetak saring menjadi hal khusus: mengidentifikasi karier kesenimanannya pada periode Decenta, sebuah biro desain yang eksis di Bandung (beranggotakan lulusan dan pengajar di Departemen Seni Rupa ITB) sejak 1974 hingga 1987.

Karya-karya cetak saring T. Sutanto banyak menghadirkan unsur keseharian dan remeh-temeh. Beberapa citraan di dalam karyanya―jika dikaitkan satu sama lain―juga berasosiasi pada pemaknaan yang jenaka dan bahkan absurd

Die Banannen Esser: Sebuah Latar Belakang

Untuk dapat melihat latar belakang kekaryaannya itu kita dapat mencermati aktivitas teater Sutanto, yang ia geluti sejak masih menjadi mahasiswa di Departemen Seni Rupa, ITB. Sutanto berteater bersama Sanento Yuliman dan juga teman-teman lainnya dalam Studi Teater Mahasiswa pada 1960an. Suatu hari pada akhir 1960an Sutanto berkesempatan menjadi sutradara dan penulis naskah untuk teater yang berjudul Die Banannen Esser (Pemakan-pemakan Pisang): Karya Terakhir G. Evorak. Alih-alih menyebutkan dirinya sendiri, ia lebih memilih menyebutkan nama orang lain (fiktif) sebagai sutradara.

DIE BANANEN ESSER

Poster Pementasan Die Banananen Esser. Rancangan Poster oleh Priyanto Sunarto

Pertunjukan teater itu menyebutkan sebagai G. Evorak sebagai sutradara teater asal Jerman yang menjadi korban rezim Nazi. Die Banannen Esser seolah-olah adalah karyanya sebelum meninggal di pengasingan. Saat pertunjukan hampir semua orang mempercayai kisah yang dibangun Sutanto sembari tertegun pada kisah tragis Evorak yang dibacakan dengan dramatis oleh narator. Sampai suatu ketika beberapa pemain (termasuk Sutanto) melangkah dengan tegap dan anggun memasuki panggung mengenakan seragam khas Nazi. Mereka kemudian memakan pisang secara penuh konsentrasi dan penghayatan. Kontan semua penonton jatuh dalam gelak tawa melihat adegan absurd itu dan mengetahui bahwa kisah sang sutradara bohong belaka.

Dari pertunjukan teater tersebut kita bisa melihat bahwa karya-karya yang “remeh”, bermain-main dan absurd justru menjadi alternatif dari karya-karya yang berorientasi “tinggi”, luhur dan adiluhung untuk menampilkan kritik atau opini atas situasi sosial atau politik. Ketimbang terjebak pada bentuk kritik yang jika berlebihan akan menjadi klise, karya Sutanto secara unik justru membicarakan hal yang lebih universal: memberikan opini pada proses kebudayaan. Secara khusus karya ini adalah kritik perihal orientasi kita yang buta terhadap luar negeri. Luar negeri selalu dilihat sebagai hal yang bermutu, padahal tidak selalu begitu. Setelah pertunjukan pertamanya, Die Banannen Esser dipentaskan di beberapa tempat lain. Sutanto menolak saat ditawari untuk menampilkan kembali teater ini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta karena merasa momentum kelucuan Die Bananen Esser sudah hilang setelah ditampilkan beberapa kali.

Bereksperimen di DECENTA

DECENTA pada awalnya didirikan pada 1974 untuk memenuhi kebutuhan elemen estetik bangunan pada masa awal kemajuan perekonomian Orde Baru. Selain menggarap elemen estetik ruang lingkup kerja DECENTA kemudian juga merambah ke desain interior dan desain grafis. Sebagai sebuah biro desain, Decenta memiliki sebuah kredo estetik “berdialog dengan masa lalu”: mencari, menjelajahi dan mengolah nilai-nilai tradisi di Indonesia yang hadir pada ragam hias dan mengekspresikannya kembali dengan pendekatan modern. Singkatnya adalah mencari keindonesiaan.

2. Anggota Decenta di depan Galeri Decenta Jalan Dipati Ukur no.99 (Dokumentasi A.D Pirous).

Priyanto Sunarto, T. Sutanto, Sunaryo dan A.D. Pirous (dari kiri ke kanan) di depan Studio Decenta

DECENTA juga mewadahi penjelajahan artistik para anggotanya sebagai seniman. Kredo estetik di atas juga diterapkan oleh masing-masing orang sesuai dengan pemahaman mereka sendiri. Penjelajahan pada cetak saring makin memperlihatkan DECENTA sebagai kelompok seniman yang ditandai pula saat mereka berkarya dan bereksperimen bersama-sama Eksperimentasi mereka tergolong intens dengan keberadaan bengkel cetak saring berfasilitas lengkap (dibantu oleh para asisten grafis yang terampil) dan laboratorium fotografi yang cukup canggih saat itu.

 

Sutanto banyak mengolah ragam-ragam hias (kebanyakan Jawa) pada cetak saringnya. Sejumlah karya mengingatkan kita pada prinsip perupaan dalam batik meskipun gubahan dekoratif khas batik yang rapi dan ketat sukar kita temukan. Hal ini disebabkan kekaryaan Sutanto yang intuitif dan seringkali tak diawali dengan sebuah konsep ataupun sketsa yang final. Keleluasan itu juga lahir dari kekaryaan gambar (doodling) yang mengalir sehingga menghasilkan banyak ragam garis dan membentuk citraan manusia, hewan (mitos), sulur-sulur/tetumbuhan dan benda-benda yang datar tanpa volume dan berkarakter canggung dan naif.

Citraan-citraan yang hadir di karyanya juga menandai lompatan-lompatan pemikiran ataupun menandai sebuah narasi atau asosiasi yang bebas. Hampir semua ruang dalam cetak saringnya tampak datar dan tanpa perspektif. Hal ini menjadikan karya-karya cetak saring Sutanto lekat dengan karakter folk art.

Ciri khas kekaryaan cetak saring Sutanto juga mengambil ikon-ikon folklor sesuai dengan mitos-mitos desa dan budaya populer yang hidup saat ia kecil seperti merk-merk jamu dan iklan tukang gigi. Citraan yang hadir dalam cetak saring Sutanto dan DECENTA adalah konsekuensi dari penggunaan metode salin-tempel. Salin-tempel itu bisa berasal dari gambar-gambar yang dibuat Sutanto sendiri maupun sumber-sumber lain (majalah, buku dan lain-lain). Gambar-gambar itu difoto dan kemudian disalin ke dalam ortofilm, lembar seluloid yang merekam negatif reproduksi citraan yang sudah difoto untuk kemudian ditransfer ke screen sablon.

Kita dapat membayangkan para anggota DECENTA tenggelam di dalam ekstase penciptaan oleh karena sarana dan prasarana yang memadai ini. Hal itu juga menghasilkan kekayaan warna pada karya-karya cetak saring Sutanto. Mereka hadir melalui penumpukan warna-warna yang menghasilkan kecemerlangan dan kepadatan yang khas serta gradasi warna yang tak hanya hadir sekali dalam satu bidang karya. Penampakan visual cetak saring Sutanto juga memperlihatkan pengaruh dari kecenderungan Pop Art di Amerika Serikat dekade 60an.

Kita dapat melihat karya Pemandangan Merah yang memperlihatkan adanya penumpukan beberapa warna. Kemudian detail-detail pada ornamen dan obyek-obyek bergaris tipis juga mengesankan penguasaan teknis fotografi yang baik sehingga tampil pada dengan perbedaan warna yang tegas antar bidang, meskipun berukuran kecil. Teknis salin-tempel juga bisa diliihat melalui reproduksi citraan gigi palsu dan kapal-kapal. Melihat karya Pemandangan Merah siapa yang akan berpikir untuk melihat ataupun membayangkan adanya pemandangan yang terdiri atas potongan rahang gigi gigantik yang disinari matahari di angkasa? Rujukan karya ini hanya dapat dibaca dari pernyataan Sutanto mengenai karya ini yang menyatakan bahwa saat ia kecil ia merasa ngeri sekaligus penasaran saat melihat potongan rahang gigi di papan reklame tukang gigi di desa tempat ia tinggal dulu.

Pemandangan Merah | 58 x 50 cm | 1975

Pemandangan Merah, cetak saring, 58 x 50 cm, 1975

Kendati mencerap pengetahuan modernis-formalis yang diajarkan oleh beberapa gurunya di Departemen Seni Rupa, ITB, karya-karya Sutanto sebenarnya tidak dapat mewakili penggayaan Mazhab Bandung. Bersama Haryadi Suadi, Sutanto sejak awal menggarap khazanah seni rupa tradisi dalam mengadopsi ragam hias dan dalam beberapa hal karya-karya mereka mengesankan kecenderungan untuk bercerita.

Karya-karya T. Sutanto yang hadir dalam semangat bermain-main ternyata menjadi alternatif aspirasi politik pada zaman Orde Baru. Bambang Bujono mengungkapkan bahwa di tengah suasana yang sarat sensor dan larangan saat itu ternyata beberapa karya seniman masih bisa menyelinap dan gembira bermain, termasuk Sutanto. Karya-karya Sutanto secara tidak langsung justru merefleksikan hampir tiadanya karya-karya yang frontal dan kritis terkait situasi sosial dan politik saat itu.[1]

Selain semangat bermain-main, kekaryaan Sutanto yang menghadirkan asosiasi bebas ditekuni bukan tanpa alasan. Ini adalah caranya berdialog. Sutanto tidak ingin ingin menyorongkan makna tunggal pada karya-karyanya untuk dicerap para pelihat.[]

 

Tentang T. Sutanto

SUTANTOT. Sutanto (lahir 2 Mei 1941 di Klaten) masuk ke Departemen Seni Rupa, ITB (sekarang Fakultas Seni Rupa dan Desain) pada 1962 dan memilih Studio Desain Interior. Ia kemudian pindah ke Studio Seni Grafis bersama Haryadi Suadi saat studio itu dibuka pada 1964. Setelah lulus pada 1969 Sutanto justru ditarik menjadi pengajar di Studio Desain Grafis saat studio itu didirikan pada 1971 oleh A.D. Pirous. Ia menjadi pengajar mata kuliah desain grafis dan ilustrasi hingga 2010

Selain sebagai pengajar, T. Sutanto juga bergiat sebagai desainer grafis. Meskipun begitu ia tidak pernah meninggalkan praktik berkesenian. Di sepanjang kekaryaannya sebagai seniman, T. Sutanto sering berkarya dengan menggunakan medium seni grafis, terutama dengan teknik cukil kayu dan cetak saring. Ia juga sering melukis

Bersama A.D. Pirous, G. Sidharta, Sunaryo dan Priyanto Sunarto, ia mendirikan Design Center Association (DECENTA) pada 1974 setelah memperoleh proyek pengerjaan elemen estetik di Gedung Convention Hall, Jakarta pada 1973. Di DECENTA Sutanto berperan sebagai manajer studio dan banyak mengerjakan pekerjaan rancangan grafis.

Pada 1986 Sutanto menempuh pendidikan master di School of Art and Design, Pratt Insitute, New York dan secara khusus memperdalam Desain Komunikasi.

Sutanto juga berprofesi sebagai kartunis media. Profesi ini ia awali di Tabloid Mahasiswa Indonesia saat masih menjadi mahasiswa bersama Sanento Yuliman dan Haryadi Suadi. Mahasiswa Indonesia menjadi media penting kala menyuarakan kekritisan terhadap situasi sosial-politik Indonesia menjelang akhir dekade 1960an. Setelah itu ia menjadi kartunis dan mengisi ilustrasi beberapa media seperti Majalah Tempo (sampai 1984), Harian Pikiran Rakyat (sampai sekarang) dan Harian The Jakarta Post (sampai sekarang).

 

[1] Bambang Bujono menyampaikan hal tersebut melalui ulasannya tentang Pameran Gambar PERSEGI di Majalah Tempo, 8 April 1978. Sebuah pameran yang mempopulerkan gambar sebagai medium seni yang mandiri sembari mengandalkan semangat bermain-main. Pameran ini diinisiasi oleh Sutanto bersama Haryadi Suadi, Priyanto Sunarto, S. Prinka, Wagiono Sunarto dan lain-lain.

*Pengantar Kuratorial Pameran Berselingkuh dengan Masa Lalu, Berkencan dengan Masa Depan (14 Juni – 14 Juli 2017, Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 April 2018 by .
%d blogger menyukai ini: