Merajut Resistensi, Mengoyak Stereotip*

Selama ini pembahasan tentang karya Mulyana berkonsentrasi pada kecakapan yang cermat terhadap material benang dan teknik rajut. Dengan teknik dan material ini Mulyana dapat memperlihatkan beberapa hal menarik, terlebih jika karya-karya tersebut hadir secara instalatif dan berukuran gigantik. Instalasi rajutan Mulyana kerapkali menghadirkan potongan pemandangan bawah laut yang terdiri dari koral, ikan-ikan kecil dan beberapa… Lanjutkan membaca Merajut Resistensi, Mengoyak Stereotip*

Me-Rupa-kan Medan Seni Rupa*

Nilai karya seni tak selalu berasal dari faktor intrinsik. Nilai karya seni juga hadir berdasarkan konsensus di belakang karya seni. Apapun bisa menjadi karya seni bergantung kesepakatan sejumlah aktor-aktor seperti seniman, kurator, kolektor galeri, publik seni dan lain-lain. Secara institusional inilah yang disebut sebagai medan seni rupa (art world). Pameran Dear Art Worldyang digelar di… Lanjutkan membaca Me-Rupa-kan Medan Seni Rupa*

Cetak Saring T. Sutanto: Memasuki Dunia Antah Berantah nan Absurd *

Pameran Berselingkuh dengan Masa Lalu, Berkencan dengan Masa Depan menghadirkan sepilihan karya-karya cetak saring T. Sutanto, yang menandainya sebagai seniman grafis. Cetak saring menjadi hal khusus: mengidentifikasi karier kesenimanannya pada periode Decenta, sebuah biro desain yang eksis di Bandung (beranggotakan lulusan dan pengajar di Departemen Seni Rupa ITB) sejak 1974 hingga 1987. Karya-karya cetak saring T.… Lanjutkan membaca Cetak Saring T. Sutanto: Memasuki Dunia Antah Berantah nan Absurd *

9TH Berlin Biennale for Contemporary Art: Kegamangan Menghadapi Dunia Hari Ini

Bagaimana karya-karya dalam pameran seni rupa kontemporer memberikan pengalaman spesifik bagi kita? Pengalaman-pengalaman apa sajakah yang kemudian dapat kita cerap dari proses mengalami karya seni? Meskipun seni bukanlah alat yang praktis dalam mengubah dunia, bagaimana karya seni dapat memberikan pengalaman yang inspiratif dan reflektif? Faktor kejutan dan kebaruan seperti apa lagi yang dapat ditawarkan untuk… Lanjutkan membaca 9TH Berlin Biennale for Contemporary Art: Kegamangan Menghadapi Dunia Hari Ini

A Footnote about My Note about Maiko’s Country

The practice of remembering depends on how history is constructed. There are too many upsetting and depressing events in the past, thus our human brain has a mechanism to filter and forget memories. In another hand, in order to maintain its power, the ruler also develops a set of mechanism to form imagination and plant it inside the people’s minds by constructing the… Lanjutkan membaca A Footnote about My Note about Maiko’s Country

Menyela Kesementaraan-Kesementaraan Kota

Saya membayangkan sebuah percakapan antara sepasang orang tua dengan anaknya, bahwa dahulu di sebuah sudut kota A terdapat sebuah pasar tradisional. Oleh karena beberapa hal, pasar tradisional tersebut menjadi sebuah mini market sekarang. Percakapan tersebut nyaris selalu berulang pada setiap generasi, meskipun jenis bangunan yang dibicarakan berbeda-beda. Pameran Temporal sedikit banyak berkaitan dengan ilustrasi tersebut:… Lanjutkan membaca Menyela Kesementaraan-Kesementaraan Kota

Identitas Keindonesiaan dalam Elemen-elemen Estetik Kelompok Decenta: Representasi Praktik Depolitisasi Orde Baru dalam Bidang Kebudayaan[i]

Oleh Chabib Duta Hapsoro Esai ini mengajukan hasil pengamatan dan pembacaan saya atas pemikiran-pemikiran Kelompok Decenta perihal pencarian keindonesiaan sebagai karakter berkesenian mereka. Bertolak dari situ, saya mulai dengan tiga pertanyaan. Bagaimana relasi antara karakteristik pencarian keindonesiaan tersebut dengan implementasinya pada beberapa karya elemen estetik mereka? Bagaimana karya-karya elemen estetik Decenta merepresentasikan identitas keindonesiaan pada… Lanjutkan membaca Identitas Keindonesiaan dalam Elemen-elemen Estetik Kelompok Decenta: Representasi Praktik Depolitisasi Orde Baru dalam Bidang Kebudayaan[i]

Les Elégants

  Francoise Huguier (Lahir di Prancis, 1942) sudah tak asing dengan Indonesia. Pertama kali ia datang pada 1970an. Selanjutnya pada 1980an, 1990an dan sekitar dua tahun lalu. Bisa dibayangkan jika ia dapat memahami transformasi-transformasi yang terjadi di negeri ini. Pada 2009 ia menjalani residensi di Singapura dan untuk proyek fotonya, selain Singapura ia berkeliling ke… Lanjutkan membaca Les Elégants

Mochtar Apin: Sang Petualang dari Gelanggang

Di tahun 2013 lalu telah berlangsung tiga pameran yang bertajuk Archiving Apin. Pameran ini berlangsung di tiga tempat yang berbeda, dalam waktu yang berbeda dengan pendekatan yang berbeda-beda pula. Ketiga acara pameran tersebut masing-masing adalah: Archiving Apin: Works and Documents from the Mochtar Apin Collection, berlangsung di NUS Museum, Singapura (31 Agustus-29 September 2013); Archiving… Lanjutkan membaca Mochtar Apin: Sang Petualang dari Gelanggang